
Mataram – Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), menggelar diskusi ilmiah bertema “G30S: Antara Fakta Sejarah dan Kontroversi Narasi”. Forum akademik yang berlangsung di Aula Utama FKIP UMMAT, Kamis (1/10/2026), tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengkaji kembali peristiwa Gerakan 30 September (G30S) melalui pendekatan historis dan analisis kritis.
Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa dengan melibatkan pimpinan fakultas, dosen, dan akademisi sejarah. Diskusi tersebut bertujuan memperkuat literasi sejarah di kalangan mahasiswa, terutama dalam memahami perbedaan antara fakta yang didukung sumber historis dan berbagai interpretasi yang berkembang dalam wacana publik.
Dalam forum tersebut, peserta didorong untuk menelaah peristiwa G30S secara objektif dengan mempertimbangkan bukti sejarah, konteks politik, serta perkembangan historiografi Indonesia. Pendekatan ini dinilai penting agar generasi muda tidak sekadar menerima informasi secara mentah, tetapi mampu menguji sumber, membandingkan perspektif, dan menyusun pemahaman berdasarkan argumentasi ilmiah.
Wakil Dekan II FKIP UMMAT, Vera Mandailina, M.Pd., yang membuka kegiatan, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pengurus HMPS Pendidikan Sejarah. Menurutnya, penyelenggaraan diskusi ilmiah sebagai kegiatan perdana kepengurusan menunjukkan semangat baru dalam membangun tradisi akademik di lingkungan program studi.
“Diskusi perdana himpunan mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah patut diapresiasi. Jika biasanya kegiatan perdana diawali dengan kegiatan wisata, kepengurusan kali ini justru menghadirkan warna berbeda melalui forum diskusi. Kegiatan semacam ini penting untuk membentuk mahasiswa yang berpikir kritis dan progresif,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UMMAT, Ilmiawan Mubin, M.Pd., menegaskan bahwa penguasaan metode penelitian sejarah merupakan bekal penting bagi mahasiswa, khususnya dalam mempersiapkan diri sebagai calon pendidik. Ia menilai, pemahaman sejarah harus dibangun melalui proses penelusuran sumber dan analisis yang mendalam, bukan hanya dengan mengandalkan satu versi cerita.
“Mahasiswa sebagai calon pendidik dan sejarawan masa depan perlu memiliki kemampuan untuk mengkaji berbagai narasi sejarah secara kritis. Melalui pembahasan G30S, mahasiswa dapat belajar menganalisis sumber, memahami situasi politik pada masanya, serta meneguhkan komitmen kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua HMPS Pendidikan Sejarah, Aris Imansyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya budaya diskusi yang berkelanjutan di kalangan mahasiswa. Ia juga berharap forum serupa mampu mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap sejarah bangsa sekaligus bersikap bijaksana dalam menyikapi perbedaan penafsiran atas peristiwa masa lalu.
Menurutnya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kesadaran sejarah, dan menumbuhkan daya kritis yang konstruktif di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Ahmad Affandi, S.S., M.Pd., dosen Pendidikan Sejarah UMMAT yang bertindak sebagai narasumber, menjelaskan bahwa hubungan antara peristiwa G30S dan peringatan Hari Kesaktian Pancasila merupakan pembahasan yang terus menarik perhatian dari tahun ke tahun. Karena itu, pendidikan sejarah perlu diarahkan pada pengembangan pemahaman yang lebih luas mengenai peristiwa masa lalu beserta nilai-nilai yang dapat dipetik darinya.
“Pendidik sejarah tidak hadir semata-mata untuk memberikan justifikasi mengenai siapa yang berada di balik suatu peristiwa. Lebih dari itu, pendidik perlu menggali nilai dan menghadirkan perspektif baru agar masyarakat dapat memahami masa lalu secara lebih mendalam,” tegasnya.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, dan tanggapan kepada narasumber. Diskusi berlangsung sebagai ruang pertukaran gagasan sekaligus latihan membangun argumentasi akademik dalam menyikapi persoalan sejarah yang memiliki beragam interpretasi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan dosen, pengurus HMPS, dan mahasiswa peserta diskusi. Melalui kegiatan ini, HMPS Pendidikan Sejarah FKIP UMMAT menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan akademik yang relevan dengan penguatan literasi sejarah, pemikiran kritis, dan karakter kebangsaan mahasiswa.
Penyelenggaraan diskusi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun generasi muda yang mampu memahami sejarah secara bertanggung jawab, menghargai proses kajian ilmiah, serta menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

